Recent Posts

Earn money from your website/blog by, selling text links, banner ads - Advertisers can, buy links, from your blog for SEO. Get paid through PayPal

Jumat, 19 Oktober 2012

RENCANA USAHA, POTENSI PASAR DAN STRATEGI PEMASARAN PETERNAKAN AYAM PETELUR


Potensi Pasar
Potensi pasar adalah khalayak konsumen yang akan mengkonsumsi telur ayam mulai masyarakat bawah, menengah, dan masyarakat kelas atas. Banyak rumah makan, restoran, super market, pasar tradisional, warung serta perusahaan roti yang menyebar di seluruh Kota maupun Desa  merupakan tempat pemasaran yang sangat potensial. Selain itu juga ayam afkir atau yang sudah tidak produktif lagi dapat dijual sebagai ayam konsumsi.
  
 Strategi Pemasaran
Hasil produksi berupa telur akan di pasarkan ke seluruh pasar tradisional yang dekat dengan usaha peternakan, warung, rumah makan, restoran, perusahaan roti serta industri makanan. Selain itu konsumen dapat membeli langsung ke peternakan. Trasnportasi pemasaran menggunakan mobil untuk pemasaran yang jaraknya jauh dari peternakan.

RENCANA KERJA DAN PENGEMBANGAN

5.1. Rencana Kerja
Jadwal Usaha
Kegiatan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Membahas rencana kegiatan usaha
























Survei pasar
























Mencari lokasi wirausaha dan pembangunan kandang
























Pembelian alat-alat dan bahan
























Mencari tenaga kerja atau karyawan
























Operasional atau berproduksi
























Pemasaran
























Evaluasi usaha

























5.2. Waktu Pengembangan
Proses pengembangan usaha ini mengacu pada hasil evaluasi usaha sebelumnya. Jika evaluasi menunjukkan hasil yang positif, dalam arti produk yang dihasilkan laku dalam jumlah yang cukup banyak dipasaran maka produksi akan ditingkatkan untuk menambah omset penjualan. Jika hasil evaluasi nunjukkan hasil yang negatif maka perlu dicari akar permasalahannya sehingga masalah yang dialami lebih dini dapat ditanggulangi.

5.3. Komersialisasi
            Tahap komersilisasi juga mengacu pada hasil evaluasi usaha sebelumnya. Komersilisasi dilaksanakan setelah produksi berjalan dengan baik dan pemasaran berjalan dengan lancar. Pada tahap ini akan dilakukan perhitungan kembali secara detail, sehingga di dapat titik impas dari usaha ini, dengan demikian gambaran pengembangan usaha ini dapat di prediksi dengan jelas


PERENCANAAN USAHA TERNAK AYAM PETELUR

6.1 Inventarisasi
1. Tanah
  • Tanah atau lahan yang digunakan adalah tanah milik sendiri seluas 0,1 Ha
  • Topografi tanah : datar
2. Bangunan
            Belum tersedia.
3. Sumber air
            Tersedia melalui PAM Desa.
4. Tenaga Kerja
            Tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 2 orang.
 5. Modal
            Modal yang digunakan berasal dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal pinjaman disediakan melalui Bank Pembangunan Daerah, sebesar Rp.60.000.000,-
Manajemen
            Mengenai pimpinan usaha akan dilaksanakan sendiri.

6.2 Data Teknis Ekonomi
  1. Tanah atau lahan yang digunakan adalah tanah milik sendiri seluas 0,2 ha untuk dua buah bangunan kandang dan satu buah bangunan gudang.
  2. Biaya Pembuatan Kandang Tembok Rp. 46.000.000,- dengan masa pakai 15 Th.
  3. Peralatan kandang (tempat pakan, tempat minum, kompor dan lain-lain) Rp 18.000.000,- dengan masa pakai 15 tahun
  4. Upah tenaga kerja Rp. 1.500.000,-/2 orang/bulan
  5. Biaya transportasi Rp. 3.250.000,-/periode
  6. Vaksin dan obat-obatan Rp. 3.900.000,-/periode
  7. Harga pakan 1 sak (50 kg) Rp. 182.000,-
  8. Listrik dan penerangan Rp. 2.210.000,-/periode
  9. Harga telur Rp. 850,-/butir
  10. Biaya telepon Rp. 650.000,-/periode
 6.3 Analisis Ekonomi
A. Kebutuhan Modal
1.  Investasi
a. Kandang, dan gudang                          Rp. 46.000.000,-
b. Peralatam kandang                               Rp. 18.000.000,-
                 Total                                       Rp. 64.000.000,-
Biaya penyusutan kandang dan peralatan:
            = (Biaya Pembuatan Kandang dan Peralatan : Masa Pemakaian) x lama produksi
            = (Rp. 64.000.000 : 780 minggu) x 66 minggu
= Rp. 5.415.384,-

1.      Modal kerja
a. Pakan DKLS Rp. 182.000,- x 2220 sak      Rp. 404.040.000,-
b. Pullet 2000 ekor x @ Rp. 31.200,-             Rp.   62.400.000,-
c. Obat-obatan dan vaksin                               Rp.     3.900.000,-
d. Upah tenaga kerja 2 orang/16 bulan             Rp.   24.000.000,-
e. Pemanas dan penerang                                 Rp.     1.950.000,-
f. Biaya transportasi/periode                             Rp.     3.250.000,-
g. Biaya telepon                                                Rp.        650.000,
h. Pajak Tanah                                                   Rp.          97.500,-
              Total                                                         Rp.  500.287.500,-

B. Perhitungan pendapatan selama 1 periode produksi (66 minggu)
1. Penerimaan:
a. Penjualan Telur selama satu periode (66 minggu)
   90% x 2000 ekor x 462 hari x Rp. 850,- di tempat      Rp. 706.860.000,-
b. Penjualan ayam afkir di tempat
   99% ayam hidup x 2000 x Rp 23.000,-                       Rp.   45.540.000,-
c. Hasil penjualan kotoran ayam di tempat                       Rp.     3.250.000,-
             Total                                                                 Rp. 755.650.000,-      
C. Biaya Produksi
1. Biaya tidak tetap (variable cost)
a. Pakan DKLS                                           Rp. 404.040.000,-
b. Pullet                                                        Rp.   62.400.000,-
c. Obat-obatan dan vaksin                            Rp.     3.900.000,-
d. Pemanas dan penerang                             Rp.     1.950.000,-
e. Biaya transportasi/periode                         Rp.     3.200.000,-
f. Biaya telepon                                             Rp.        650.000,-
           Total                                                       Rp. 476.190.000,-

 2. Biaya tetap (fixed cost)
a. Upah tenaga kerja 2 orang/16 bulan                 Rp.   24.000.000,-
b. Pajak Tanah                                                     Rp.          97.500,-
c. Biaya penyusutan kandang dan peralatan           Rp.     5.415.384,-
           Total                                                               Rp.   29.512.882,-

Jadi total biaya produksi                                   Rp.  505.702.632,-
                                                                                                                       
D. Margin Kotor
            Margin kotor = Penerimaan - Biaya tidak tetap
                                    = Rp. 755.650.000 -  Rp. 476.190.000
                                    = Rp. 279.460.000,-
E. Margin Bersih
            Margin bersih  = Penerimaan - Biaya produksi total
                                    = Rp. 755.650.000 -  Rp. 505.702.632
                                    = Rp. 249.947.368,-
F. BEP (Break Even Point)
           BEP   = FC : (1 - (VC : TR) 
                     = 29.512.882 : (1 - (476.190.000 : 505.702.632)
                     = Rp. 505.706.915,-
       Jadi usaha ini jika dijalankan akan mencapai titik impas jika memperoleh penghasilan sebesar Rp. 505.706.915,-         
         BEPbutir   = (BEP : HARGA TELUR PER BUTIR) x 1 butir
                        = ( Rp. 505.702.632 x Rp. 850) x 1 butir
                        = 594.949 butir          
         Jadi titik impas usaha ini jika produksi telur yang dihasilkan dalam satu periode mencapai 594.949 butir                             
G. Rasio Laba atas Penjualan (L/R)
         L/R Rasio           = Total Penjualan : Biaya Produksi
                                    = Rp. 755.650.000 :  Rp. 505.702.632
                                    = 1,5
Jadi rasio laba atas penjualan sebesar 1,5 

Baca  Selengkapnya PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA AYAM RAS PETELUR

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India